Menutup Prodi, Menutup Akal Sehat
Rencana pemerintah menutup program studi yang dianggap
“tidak relevan dengan dunia kerja” bukanlah terobosan. Ia lebih menyerupai
jalan pintas cepat, tampak tegas, tetapi dangkal. Kebijakan ini mungkin
meredakan kegelisahan statistik pengangguran terdidik, namun sekaligus
memperlihatkan satu hal yang lebih mengkhawatirkan kegagalan negara memahami
persoalan pendidikan secara utuh.
Logika yang dibangun sederhana terlalu sederhana. Jika
lulusan tidak terserap pasar, maka prodinya yang salah. Tutup. Selesai. Cara
berpikir seperti ini bukan hanya problematis, tetapi juga menyesatkan. Dalam
logika ilmiah, ini adalah bentuk post hoc fallacy kesimpulan sebab-akibat yang
dipaksakan. Pengangguran tidak lahir dari program studi, melainkan dari sistem
yang gagal menghubungkan pendidikan dengan struktur ekonomi dan perencanaan
tenaga kerja.
Di sinilah letak kegagalan paling mendasar negara menyasar gejala, bukan akar masalah.
Dalam teori perencanaan pendidikan, ketidaksesuaian antara
lulusan dan kebutuhan pasar dikenal sebagai mismatch struktural. Ia terjadi
karena buruknya manpower planning, lemahnya basis data, dan tidak adanya
integrasi antara kebijakan pendidikan, industri, dan pembangunan daerah.
Menutup program studi tidak menyelesaikan mismatch ia hanya menyembunyikannya.
Lebih ironis lagi, kebijakan ini memperlihatkan
kecenderungan berbahaya mereduksi
pendidikan menjadi sekadar mesin produksi tenaga kerja. Perguruan tinggi
diperlakukan seperti pabrik, dan mahasiswa seperti bahan baku yang harus “laku”
di pasar. Padahal, dalam tradisi akademik, pendidikan memiliki mandat yang jauh
lebih luas membentuk nalar kritis, mengembangkan pengetahuan, dan menjaga
peradaban.
Pemikiran Paulo Freire sejak lama mengingatkan bahwa
pendidikan adalah proses pembebasan, bukan penyesuaian pasif terhadap sistem
yang ada. John Dewey bahkan menegaskan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu
sendiri, bukan sekadar persiapan untuk bekerja. Ketika negara mulai mengukur
nilai ilmu dari logika “laku atau tidak laku”, maka yang hilang bukan hanya
makna pendidikan, tetapi juga martabat manusia sebagai subjek berpikir.
Kebijakan penutupan prodi juga memperlihatkan kemalasan
intelektual dalam membaca kompleksitas kurikulum. Kurikulum bukan sekadar
daftar mata kuliah, melainkan representasi ideologi negara tentang manusia dan
masa depan. Negara-negara maju memahami ini dengan sangat baik.
Finlandia tidak menutup bidang ilmu karena dianggap tidak
relevan. Mereka justru memperkuat fondasi berpikir, memberi otonomi kepada
guru, dan membangun sistem yang fleksibel. Jerman tidak memangkas pendidikan,
melainkan mengintegrasikannya dengan industri melalui dual system yang matang.
Korea Selatan tidak merespons pasar dengan panik, tetapi dengan investasi besar
pada riset, kualitas kurikulum, dan budaya belajar.
Mereka tidak menutup ruang ilmu. Mereka memperluas
kemungkinan ilmu.
Indonesia justru bergerak sebaliknya memotong cabang tanpa
pernah merawat akar.
Ambil contoh pendidikan dasar. Narasi “kelebihan guru”
sering dijadikan pembenaran kebijakan. Namun fakta di lapangan menunjukkan
sesuatu yang berbeda: bukan kelebihan, melainkan salah distribusi dan salah
desain. Banyak sekolah kekurangan guru pada bidang tertentu, sementara yang
melimpah adalah guru dengan pendekatan generalis. Model pendidikan guru sekolah
dasar yang diwarisi dari masa lalu tidak lagi sepenuhnya relevan dengan
kompleksitas pengetahuan hari ini.
Tetapi alih alih membenahi desain, negara justru memilih
jalan pintas menutup, mengurangi, menyederhanakan.
Di titik ini, kebijakan tersebut tidak lagi sekadar keliru,
tetapi berbahaya. Ia berpotensi mempersempit ruang pengembangan ilmu,
melemahkan kapasitas adaptasi bangsa, dan dalam jangka panjang, menciptakan
ketergantungan pada pengetahuan luar. Negara yang menutup ruang akademiknya
sendiri sedang menggali keterbelakangannya secara sistematis.
Lebih dari itu, kebijakan ini menunjukkan dominasi
pendekatan top down yang abai terhadap realitas. Pendidikan diperlakukan
sebagai angka, bukan ekosistem. Padahal, relasi antara pendidikan dan dunia
kerja bersifat dinamis, kompleks, dan tidak linear. Tidak ada satu kebijakan
tunggal yang bisa menyelesaikannya secara instan apalagi kebijakan yang
berbasis pemangkasan.
Yang dibutuhkan justru sebaliknya: keberanian untuk
membenahi sistem secara menyeluruh. Kurikulum harus direvitalisasi agar adaptif
tanpa kehilangan kedalaman ilmu. Pendidikan guru harus direkonstruksi dengan
menggabungkan pendekatan generalis dan spesialis. Distribusi tenaga kerja harus
berbasis kebutuhan wilayah. Dan yang paling penting, negara harus membangun
sistem data yang terintegrasi antara pendidikan dan dunia kerja.
Ini memang tidak cepat. Tidak sederhana. Tetapi justru di
situlah letak kebijakan yang serius.
Menutup program studi mungkin membuat angka terlihat rapi.
Tetapi kebijakan publik tidak diukur dari kerapian statistik, melainkan dari
kemampuannya menyelesaikan masalah secara substantif.
Dan di sinilah persoalan sebenarnya kebijakan ini tidak
menyelesaikan apa apa. Ia hanya mengganti persoalan dengan ilusi solusi.
Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar
program studi, melainkan arah pendidikan nasional itu sendiri. Apakah
pendidikan akan tetap menjadi ruang pembentukan manusia merdeka, atau direduksi
menjadi sekadar alat produksi ekonomi?
Jika pilihan kedua yang diambil, maka kita tidak hanya
sedang menutup program studi.
Kita sedang menutup akal sehat.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan