Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Di Balik Ledakan Tulisan AI Tragedi Intelektual Abad Digital

Di Balik Ledakan Tulisan AI Tragedi Intelektual Abad Digital
Aditya Ahmad Fauzi, S.Kom., M.Kom Dosen Fakultas Sains dan Informatika Universitas pertiba

Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan (AI) telah menjadi alat bantu yang luar biasa dalam banyak bidang mulai dari riset, bisnis, hingga pendidikan. Namun di balik kecanggihannya, saya justru merasa resah dengan satu fenomena yang kini semakin marak, dan menjamurnya tulisan opini di media online yang seolah-olah ditulis oleh “praktisi” atau “akademisi”, padahal isinya hanyalah hasil salinan dari AI. Fenomena ini muncul begitu cepat seiring kemudahan akses terhadap teknologi AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot dan lain-lain. Dalam hitungan menit, seseorang bisa menghasilkan tulisan yang tampak rapi, lengkap dengan kata pengantar akademis dan kesimpulan moral yang menggugah. Tetapi, di balik susunan kalimat yang indah itu, sering kali tidak ada riset nyata, tidak ada pengalaman lapangan, dan tidak ada data yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang ada hanyalah teks buatan mesin yang diambil bulat-bulat tanpa adanya refleksi, dan tanpa sentuhan dari nurani manusia.

Sebagai pembaca, kita mungkin tidak langsung menyadari perbedaannya. Tulisan hasil AI memang tampak meyakinkan di permukaan. Namun bagi mereka yang terbiasa membaca karya ilmiah atau opini yang berbasis pengalaman empiris, ada sesuatu yang hampa di sana. Tidak ada kedalaman analisis, tidak ada konteks lokal, dan sering kali tidak ada empati terhadap persoalan yang dibahas. Lebih ironis lagi, sebagian penulis bahkan mencantumkan gelar akademik atau jabatan profesional untuk memberi kesan kredibilitas, padahal substansi tulisannya tidak lebih dari hasil “copy paste” dari mesin. Jika dibiarkan, hal ini bisa menurunkan standar intelektual publik. Ruang opini yang seharusnya menjadi tempat refleksi dan pertukaran gagasan justru berubah menjadi etalase narsistik, tempat orang berlomba menunjukkan siapa paling cepat menulis, bukan siapa paling dalam berpikir.

Sebagai contoh artikel dan tulisan opini yang menangani isu AI secara serius, menunjukkan bagaimana media-media opini di Indonesia merespons fenomena ini. Saya catat bahwa sejauh ini tidak ada kasus publik yang menyatakan secara eksplisit bahwa suatu opini berasal 100% dari AI, tapi sudah banyak tulisan yang menyinggung masalah penggunaan AI, dampak, dan bahaya jika tidak dikontrol.

Judul/Media

Inti Opini/Reaksi terhadap AI

Aspek yang Ditekankan

“AI generatif dan moralitas publik” (Kompas)

Menunjukkan bahwa AI bisa menghasilkan pandangan populer atau dominan, tapi belum tentu sahih, teks AI bergantung pada kumpulan data yang punya bias. (Kompas)

Keaslian perspektif, risiko bias, pentingnya analisis manual & verifikasi konteks lokal.

“Media Massa dalam Jeratan AI. Antara Harapan dan Ancaman” (Bangbara)

Media melihat AI sebagai penyelamat dalam produksi konten, tapi bahaya muncul ketika kualitas & otoritas isi tergerus. (Bangbara)

Volume konten vs kredibilitas, kualitas vs kecepatan, dan peran editor/kurator manusia.

“Menjaga Naluri Akademik di Tengah Keberadaan ChatGPT” (Harianjogja.com)

Akademisi perlu tetap menjaga rasa keingintahuan, keaslian ide, dan tidak menyerahkan semuanya ke AI. (Harianjogja.com)

Tanggung jawab akademik, integritas penelitian/opini, pemanfaatan AI sebagai alat bantu bukan pengganti.

“Jurnalisme dan Kecerdasan Buatan” (Kompas)

Menekankan kejujuran publik jika AI digunakan, serta bahwa ada proses jurnalistik yang harus dipenuhi. (Kompas)

Transparansi, prosedur jurnalistik, membedakan antara konten “berbasis fakta & verifikasi” dan konten “langsung hasil AI + prompt”.

Walaupun contoh-contoh di atas tidak menyatakan dengan jelas “ini tulisan sepenuhnya menggunakan AI,” tapi mereka menunjukkan bahwa banyak pihak sudah menyadari risiko dan mulai mengajukan standar, etika, dan kontrol.

Saya tidak menolak penggunaan AI, sama sekali tidak. AI adalah alat yang luar biasa, akan tetapi AI tetaplah alat. Tanggung jawab moral dan intelektual tetap berada pada manusia yang menggunakannya. Gunakanlah AI untuk memperkuat argumen, bukan menggantikannya untuk membantu menata bahasa, bukan menggantikan proses berpikir kritis. Menulis opini seharusnya lahir dari pergulatan batin dan pemikiran pribadi. Tulisan yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menyampaikan kejujuran intelektual. Kita bisa memanfaatkan AI sebagai rekan kerja, namun hasil akhirnya tetap harus melewati saringan akal sehat dan nurani.

Kita membutuhkan lebih banyak penulis yang menulis dengan kesadaran, bukan sekadar kecepatan. Dunia digital sudah cukup bising dengan informasi palsu dan opini dangkal. Jangan biarkan mesin mengambil alih ruang refleksi manusia. Mari menulis kembali dengan pikiran yang jernih, tangan yang bekerja, dan hati yang bertanggung jawab.