Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

Perubahan Perilaku Konsumen dan Fenomena “Rojali” Rombongan Jarang Beli.

Perubahan Perilaku Konsumen dan Fenomena “Rojali” Rombongan Jarang Beli.
Mat Amin, S.E., M.M. Dosen Tetap Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Pertiba

Pusat-pusat perbelanjaan di berbagai kota besar tampak semakin ramai. Mal kembali menjadi ruang hiburan keluarga, tempat berkumpul anak muda, sekaligus simbol geliat konsumsi pasca-pandemi. Namun, di balik keramaian itu terselip paradoks jumlah kunjungan meningkat, tetapi nilai belanja per transaksi justru menurun. Konsumen lebih banyak datang untuk berjalan-jalan menikmati suasana atau sekadar nongkrong dibandingkan berbelanja produk dalam jumlah besar yang dikenal dengan istilah sekarang ‘Rojali” Rombongan Jarang Beli.

Fenomena ini dikenal dengan istilah downtrading, yakni kecenderungan konsumen untuk tetap berbelanja, tetapi dengan pilihan yang lebih ekonomis baik dari segi merek, ukuran, maupun jumlah. Ketimbang membeli barang premium, konsumen kini lebih memilih produk pengganti yang lebih murah, paket promo, atau bahkan hanya sekadar “window shopping” tanpa transaksi berarti. Pergeseran perilaku ini seakan menjadi cermin bahwa masyarakat masih mencari hiburan dan pengalaman sosial, tetapi dengan sikap finansial yang jauh lebih berhati-hati.

Secara sederhana, downtrading dapat dipahami sebagai strategi adaptasi konsumen untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan kemampuan finansial. Konsumen tetap ingin memenuhi kebutuhan emosional maupun fungsional, tetapi dengan pengeluaran yang lebih terkendali. Fenomena ini biasanya muncul ketika terjadi tekanan ekonomi, misalnya saat inflasi tinggi, kenaikan harga kebutuhan pokok atau adanya ketidakpastian penghasilan. Konsumen tidak sepenuhnya berhenti belanja melainkan menurunkan standar agar gaya hidup tetap bisa dijalankan dengan biaya lebih efisien.

Fenomena downtrading sejatinya bukan hal baru dalam perilaku konsumen. Dalam teori manajemen pemasaran perilaku ini terjadi ketika konsumen tetap membeli produk tetapi dengan penyesuaian pada kualitas, kuantitas, atau merek yang lebih terjangkau pola ini biasanya muncul ketika ada tekanan eksternal baik dari sisi ekonomi maupun psikologis.

Ada beberapa faktor yang mendorong munculnya downtrading di Indonesia saat ini. Pertama, faktor ekonomi makro. Inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat konsumen lebih selektif dalam mengatur pengeluaran. Meski pendapatan tidak bertambah signifikan, biaya hidup justru meningkat, sehingga belanja di mal harus disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Kedua, faktor psikologis. Konsumen cenderung mengutamakan rasa aman dan menahan diri dari pembelian besar karena ketidakpastian ekonomi. Mereka lebih nyaman mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok dibanding belanja barang sekunder.

Ketiga, perubahan preferensi konsumsi. Konsumen kini menempatkan nilai lebih pada pengalaman sosial dibanding kepemilikan barang. Nongkrong di kafe, menonton hiburan, atau sekadar berjalan-jalan di mal dianggap sudah cukup memberikan kepuasan emosional, meski tanpa belanja besar.

Keempat, pengaruh digitalisasi. Dengan mudahnya membandingkan harga melalui e-commerce, konsumen menjadi lebih rasional dan tidak terburu-buru melakukan pembelian di mal. Mereka mungkin mencoba barang di toko, lalu membeli secara online dengan harga lebih rendah.

penomena downtrading bukan hanya cerminan perilaku konsumen, tetapi juga menjadi tantangan strategis bagi dunia usaha. Bagi brand premium atau  merek yang menawarkan produk serta  layanan dengan kualitas lebih tinggi fenomena ini menuntut penyesuaian. Strategi seperti meluncurkan produk turunan dengan harga lebih terjangkau, menawarkan paket ekonomis, atau mengembangkan lini khusus untuk segmen menengah bisa menjadi solusi untuk menjaga basis konsumen tanpa merusak citra merek utama.

Bagi retailer, situasi ini mendorong perlunya inovasi dalam program penjualan. Promosi, bundling, diskon, dan program loyalitas akan semakin relevan untuk menjaga konsumen tetap berbelanja. Retailer juga dapat memperkuat ekosistem digitalnya, misalnya dengan menyediakan harga kompetitif di platform online untuk mencegah konsumen beralih ke marketplace lain.

Sementara itu, bagi merek lokal inilah momentum untuk naik kelas. Konsumen yang berpindah dari merek premium ke merek ekonomis membuka peluang bagi produk lokal dengan harga bersaing untuk membuktikan kualitasnya. Jika dikelola dengan baik, downtrading bisa menjadi pintu masuk bagi brand lokal untuk memperoleh konsumen baru yang sebelumnya lebih loyal pada merek besar.

Dalam menghadapi fenomena downtrading, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak.

Pertama, Bagi Pelaku Usaha. dunia usaha perlu melakukan segmentasi ulang terhadap pasar konsumen saat ini tidak hanya dikelompokkan berdasarkan demografi tetapi juga berdasarkan sensitivitas harga dan perilaku belanja. Dari segmentasi itu perusahaan dapat mengembangkan inovasi produk ukuran yang lebih kecil, varian ekonomis, Startegi Pemasaran dimana dua atau lebih produk atau jasa digabungkan dalam satu paket dengan demikian konsumen tetap bisa berbelanja tanpa merasa terbebani secara finansial.

Kedua, Bagi Pemasar. Strategi komunikasi harus lebih menekankan pada manfaat nyata, bukan sekadar citra atau prestise. Narasi pemasaran yang menekankan kecerdasan dalam memilih lebih relevan di tengah situasi ekonomi yang menekan. Selain itu, pemasar dapat mengoptimalkan kanal digital untuk menghadirkan transparansi harga, promo yang personal dan pesan yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Ketiga, Bagi Pemerintah. Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu penggerak  utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, pemerintah perlu memastikan stabilitas harga dan daya beli masyarakat. Kebijakan pengendalian inflasi pangan, subsidi tepat sasaran, serta dukungan bagi UMKM menjadi langkah penting untuk mencegah penurunan konsumsi yang lebih tajam.

Fenomena downtrading menunjukkan bahwa konsumen tidak berhenti berbelanja, melainkan menyesuaikan diri dengan situasi ekonomi. Bagi pelaku usaha ini bukan ancaman semata, tetapi peluang untuk berinovasi menciptakan produk dan strategi pemasaran yang lebih menekankan nilai.