Ketika Budaya Kerja Menggerus Kesehatan Mental Pegawai
"Tidak
semua pegawai pulang dalam keadaan lelah karena pekerjaannya.
Sebagian
pulang membawa kelelahan karena budaya yang mereka hadapi setiap hari."
Organisasi pada era modern dituntut untuk bekerja semakin cepat, adaptif,
dan produktif. Berbagai indikator kinerja disusun untuk memastikan target
tercapai, sementara inovasi terus didorong agar organisasi mampu bertahan
menghadapi perubahan. Namun, di balik berbagai ukuran keberhasilan tersebut,
terdapat satu aspek yang sering luput dari perhatian, yaitu kualitas interaksi
antarmanusia di tempat kerja. Padahal, World
Health Organization (WHO) dan International
Labour Organization (ILO) menegaskan bahwa lingkungan kerja yang sehat
bukan hanya berkaitan dengan keselamatan fisik, tetapi juga kesehatan mental
dan kesejahteraan psikologis para pekerja. Ironisnya, ancaman terhadap
kesehatan mental pegawai tidak selalu berasal dari tingginya target, beratnya
beban pekerjaan, atau keterbatasan sumber daya. Tekanan justru muncul dari
budaya interaksi yang berkembang setiap hari. Tekanan ini tidak tertulis dalam
peraturan organisasi, tidak tercantum dalam indikator kinerja, bahkan sering
dianggap sebagai bagian yang wajar dari dinamika organisasi. Padahal, dampaknya
dapat jauh lebih besar daripada yang terlihat di permukaan.
Budaya kerja tidak dimaknai semata-mata sebagai kedisiplinan, etos kerja,
kepatuhan terhadap prosedur, ataupun kemampuan mencapai target organisasi.
Budaya kerja juga tercermin dalam cara orang-orang di dalam organisasi
berinteraksi setiap hari. Cara mereka berkomunikasi, menyikapi perbedaan
pendapat, membangun kepercayaan, menyelesaikan konflik, serta memperlakukan
sesama rekan kerja merupakan cerminan budaya organisasi yang sesungguhnya.
Sering kali, justru aspek inilah yang menentukan apakah organisasi menjadi
tempat yang mendorong pertumbuhan atau sebaliknya menjadi sumber tekanan
psikologis bagi para pegawainya. Fenomena tersebut sesungguhnya sangat dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Percakapan yang semula bertujuan berbagi
informasi perlahan berubah menjadi gosip. Perbedaan pendapat berkembang menjadi
pembentukan opini terhadap individu tertentu tanpa adanya ruang klarifikasi.
Kompetensi tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran penghargaan karena kedekatan
dengan pihak tertentu terkadang dianggap lebih menentukan. Budaya "asal
bapak senang" memperoleh ruang yang lebih besar dibandingkan keberanian
menyampaikan kritik yang konstruktif. Tidak jarang muncul perilaku saling
memengaruhi, saling menunjukkan kemampuan demi memperoleh pengakuan, bahkan
saling menjatuhkan untuk mempertahankan posisi.
Pada saat yang sama, kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk bukan karena
kebutuhan pekerjaan, melainkan karena kedekatan personal, rasa aman, atau
kepentingan tertentu. Sekat antarbagian semakin terasa, ego sektoral menguat,
sementara komunikasi lintas unit menjadi semakin sulit. Yang lebih
memprihatinkan, dalam beberapa situasi masih dijumpai pemimpin yang lebih cepat
memberikan penilaian daripada mendengarkan, lebih mudah mengoreksi bawahan
daripada melakukan introspeksi terhadap sistem maupun gaya kepemimpinannya
sendiri. Akibatnya, hubungan antara pemimpin dan pegawai perlahan berubah dari
hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan menjadi hubungan yang dipenuhi
kehati-hatian. Apabila diamati secara terpisah, fenomena-fenomena tersebut
mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, ketika berlangsung
terus-menerus tanpa adanya koreksi, semuanya berubah menjadi pola perilaku yang
diterima sebagai sesuatu yang lumrah. Edgar H. Schein menjelaskan bahwa budaya
organisasi tidak dibentuk oleh slogan, visi, atau nilai-nilai yang tertulis
dalam dokumen resmi, melainkan oleh perilaku yang terus diulang dan akhirnya
dianggap sebagai cara yang normal dalam menjalankan kehidupan organisasi.
Dengan demikian, budaya organisasi sesungguhnya bukanlah apa yang dikatakan
organisasi tentang dirinya, melainkan apa yang setiap hari dipraktikkan oleh
orang-orang di dalamnya.
Ketika perilaku negatif memperoleh toleransi, pegawai perlahan
menyesuaikan diri agar dapat bertahan dalam lingkungan tersebut. Fokus mereka
tidak lagi sepenuhnya tertuju pada bagaimana memberikan kontribusi terbaik bagi
organisasi. Sebaliknya, mereka mulai memikirkan bagaimana menjaga diri,
menghindari konflik, memastikan ucapannya tidak disalahartikan, atau mencari
posisi yang dianggap paling aman. Energi yang seharusnya digunakan untuk
berinovasi dan meningkatkan kualitas pekerjaan akhirnya lebih banyak tersita
untuk menghadapi dinamika sosial yang berkembang di lingkungan kerja. Tidak
mengherankan apabila banyak pegawai kemudian memilih diam. Diam sering kali
dipersepsikan sebagai rendahnya kepedulian atau kurangnya inisiatif. Padahal,
dalam banyak kasus, diam merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang
dirasakan tidak aman. Amy Edmondson melalui konsep psychological safety
menjelaskan bahwa seseorang akan berani menyampaikan pendapat, mengemukakan
gagasan, bahkan mengakui kesalahan apabila ia merasa aman dari risiko
dipermalukan, diabaikan, atau menerima konsekuensi negatif. Sebaliknya, ketika
rasa aman psikologis menghilang, pegawai lebih memilih menyimpan pikirannya
sendiri. Organisasi memang tampak tenang karena hampir tidak ada perdebatan,
tetapi ketenangan tersebut belum tentu mencerminkan organisasi yang sehat. Bisa
jadi, yang hilang justru keberanian untuk berbicara secara jujur.
Bersamaan dengan itu, rasa saling percaya mulai terkikis. Pegawai menjadi
lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, lebih selektif dalam berbagi informasi,
dan lebih nyaman berdiskusi di dalam kelompok kecil daripada secara terbuka.
Mayer, Davis, dan Schoorman menjelaskan bahwa kepercayaan dibangun melalui
kompetensi, integritas, dan niat baik. Ketika ketiga unsur tersebut mulai
diragukan, hubungan kerja berubah menjadi hubungan yang dipenuhi kewaspadaan.
Kolaborasi menjadi formalitas, sementara rasa memiliki terhadap organisasi
semakin melemah. Yang paling memprihatinkan, dampaknya tidak selalu terlihat
secara langsung. Program kerja tetap berjalan, target tetap tercapai, rapat
tetap terlaksana, bahkan laporan kinerja mungkin menunjukkan hasil yang
memuaskan. Akan tetapi, di balik semua itu, organisasi perlahan kehilangan
sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu semangat, kreativitas, keberanian, dan
keterikatan emosional pegawainya. Mereka tetap hadir setiap hari, tetapi tidak
lagi bekerja dengan antusiasme yang sama. Mereka menyelesaikan tugas, tetapi
enggan memberikan gagasan baru. Mereka hadir secara fisik, tetapi mulai menjauh
secara psikologis dari organisasi.
Di sinilah budaya kerja mulai menggerus kesehatan mental pegawai. Bukan
semata-mata karena banyaknya pekerjaan, melainkan karena energi psikologis
mereka terus terkuras untuk menghadapi hubungan sosial yang tidak sehat. Rasa
curiga, komunikasi yang buruk, politik organisasi, rendahnya kepercayaan, dan
ketidakpastian dalam berinteraksi menjadi tekanan yang berlangsung setiap hari.
Apabila kondisi tersebut terus dibiarkan, organisasi bukan hanya berisiko
mengalami penurunan produktivitas, tetapi juga kehilangan orang-orang terbaik
yang memilih menarik diri secara emosional atau mencari lingkungan kerja yang
lebih sehat. Persoalan ini seharusnya tidak dipandang sebagai masalah pribadi
pegawai semata. Kesehatan mental merupakan tanggung jawab bersama yang
dipengaruhi oleh kualitas lingkungan kerja. Organisasi yang membiarkan budaya
saling curiga, komunikasi yang tidak sehat, dan politik organisasi berkembang
tanpa koreksi sesungguhnya sedang menciptakan risiko bagi keberlanjutan
organisasinya sendiri. Sebab, organisasi tidak hanya membutuhkan pegawai yang
kompeten, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan kompetensi
tersebut tumbuh dan berkembang.
Oleh karena itu, membangun budaya kerja yang sehat tidak cukup dilakukan
melalui penyusunan aturan baru, pelatihan sesaat, atau pemasangan slogan-slogan
organisasi. Perubahan harus dimulai dari perilaku sehari-hari. Pemimpin perlu
membangun ruang dialog yang aman, mendengar sebelum menilai, dan menunjukkan
keteladanan melalui integritas serta introspeksi diri. Pada saat yang sama,
setiap pegawai memiliki tanggung jawab untuk menghentikan kebiasaan yang
merusak kepercayaan, mengedepankan komunikasi yang jujur, menghargai perbedaan
pendapat, serta menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi
maupun kelompok. Pada akhirnya, budaya kerja bukanlah sesuatu yang diwariskan
oleh organisasi, melainkan sesuatu yang diciptakan setiap hari oleh setiap
orang yang menjadi bagian di dalamnya. Sebelum bertanya mengapa semakin banyak
pegawai merasa lelah secara emosional, kehilangan semangat, atau memilih diam,
mungkin ada satu pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu kita renungkan
bersama budaya
seperti apa yang sedang kita bangun, dan budaya seperti apa yang selama ini
kita biarkan tumbuh? Sebab organisasi yang benar-benar unggul
bukan hanya organisasi yang berhasil mencapai target kinerja, tetapi organisasi
yang mampu menjaga kepercayaan, martabat, dan kesehatan mental setiap insan
yang bekerja di dalamnya. Ketika manusia merasa dihargai, didengar, dipercaya,
dan diperlakukan secara adil, kinerja bukan lagi sekadar target yang harus
dicapai, melainkan menjadi konsekuensi alami dari budaya organisasi yang sehat.
Di situlah organisasi tidak hanya berhasil mencapai tujuan, tetapi juga berhasil
memanusiakan manusia yang menjadi kekuatan utamanya.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan