P
Tutup

Layanan

Situs Lainnya

Pertiba Startup & Network

BAZNAS Babel dan Universitas Pertiba Teken MoU, Perkuat Sinergi Zakat, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat

BAZNAS Babel dan Universitas Pertiba Teken MoU, Perkuat Sinergi Zakat, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat
BAZNAS Babel dan Universitas Pertiba Teken MoU, Perkuat Sinergi Zakat, Pendidikan, dan Pemberdayaan Masyarakat

PANGKALPINANG, 22 September 2026 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Universitas Pertiba memperkuat sinergi kelembagaan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerja sama dalam bidang pendidikan, sosial, kemanusiaan, serta pemberdayaan masyarakat.

Penandatanganan MoU berlangsung pada Selasa, 22 September 2026, bertempat di Ruang Yayasan Universitas Pertiba. Dari pihak BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, MoU ditandatangani langsung oleh Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Zulhadi.

Sementara dari Universitas Pertiba, hadir dan turut mendukung kerja sama tersebut Ketua Yayasan Universitas Pertiba Adi Suputra Abdul Rasyid saliman sekretaris yayasan didampingi oleh Abdul Rasyid saliman sekretaris yayasan, Rektor Universitas Pertiba Dr. Suhardi, serta Plt. Wakil Rektor II Universitas Pertiba Eddy Supriadi.

Kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan dua kekuatan penting dalam pembangunan daerah, yakni kekuatan filantropi melalui pengelolaan zakat dan kekuatan intelektual melalui pendidikan tinggi.

Zakat dan Pendidikan: Dua Jalan Membangun Peradaban

Kerja sama BAZNAS dan perguruan tinggi tidak semata-mata dipandang sebagai hubungan administratif antarlembaga. Lebih jauh, kolaborasi tersebut memiliki dimensi sosial dan filosofis yang kuat.

Zakat pada hakikatnya bukan hanya persoalan menghimpun dan menyalurkan dana. Zakat merupakan instrumen sosial untuk membangun keadilan, mengurangi kesenjangan, sekaligus menghadirkan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Sementara perguruan tinggi memiliki tanggung jawab yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan. Kampus merupakan ruang lahirnya pengetahuan, inovasi, gagasan, dan sumber daya manusia yang diharapkan mampu menjawab persoalan masyarakat.

Ketika kekuatan zakat bertemu dengan kekuatan ilmu pengetahuan, maka terbuka ruang untuk membangun model pemberdayaan yang lebih berkelanjutan.

“Zakat memberikan daya sosial, sementara pendidikan memberikan daya intelektual. Ketika keduanya dipertemukan, yang dibangun bukan hanya bantuan hari ini, tetapi juga kemandirian untuk masa depan,” demikian semangat yang tercermin dalam kerja sama tersebut.

Universitas Tidak Boleh Berjarak dari Persoalan Masyarakat

Universitas Pertiba memandang kerja sama dengan BAZNAS sebagai bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Perguruan tinggi dituntut untuk tidak berhenti di ruang kelas. Ilmu pengetahuan harus memiliki hubungan langsung dengan realitas sosial.

Melalui kolaborasi dengan BAZNAS, sivitas akademika dapat mengambil bagian dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat, kajian sosial, pengembangan sumber daya manusia, literasi zakat, penelitian, serta berbagai program pengabdian yang memiliki dampak nyata.

Dengan demikian, kampus tidak hanya menjadi tempat orang memperoleh gelar, tetapi juga menjadi rumah bagi lahirnya solusi atas persoalan masyarakat.

Dari Bantuan Menuju Kemandirian

Salah satu gagasan penting dalam paradigma pemberdayaan adalah mengubah pola pikir dari sekadar memberi bantuan menuju membangun kemandirian.

Zakat yang dikelola secara profesional dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi dan sosial. Di sisi lain, perguruan tinggi dapat memberikan dukungan berupa pengetahuan, pendampingan, riset, teknologi, serta pengembangan kapasitas masyarakat.

Sinergi tersebut memungkinkan lahirnya program-program yang tidak hanya menyelesaikan persoalan jangka pendek, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar mampu berdiri secara mandiri.

Dalam perspektif pembangunan manusia, keberhasilan sebuah program sosial bukan semata-mata diukur dari berapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan dari seberapa jauh bantuan tersebut mampu mengubah kehidupan penerima menjadi lebih mandiri dan produktif.

Kolaborasi untuk Bangka Belitung yang Lebih Berdaya

Ketua BAZNAS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Zulhadi dan jajaran Universitas Pertiba melalui Dr (c) Adi Suputra, Dr. Suhardi, dan Eddy Supriadi menunjukkan bahwa kolaborasi lintas kelembagaan diperlukan untuk menjawab persoalan pembangunan yang semakin kompleks.

Pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga sosial, dan masyarakat secara bersama sama.

BAZNAS memiliki kekuatan pada pengelolaan zakat dan jejaring sosial masyarakat, sedangkan Universitas Pertiba memiliki sumber daya akademik dan intelektual. Pertemuan dua kekuatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan program yang lebih terukur, berbasis pengetahuan, dan memiliki dampak sosial yang lebih luas.

MoU tersebut sekaligus menjadi momentum untuk membangun ekosistem kolaborasi yang menempatkan ilmu, kepedulian, dan kebermanfaatan sebagai fondasi utama.

Pada akhirnya, pendidikan dan zakat memiliki satu titik temu yang sama keduanya berbicara tentang manusia.

Pendidikan berusaha mengangkat manusia melalui ilmu dan pengetahuan. Zakat berusaha mengangkat manusia melalui kepedulian dan keberdayaan.

Jika ilmu melahirkan kecerdasan dan zakat melahirkan kepedulian, maka keduanya dapat menjadi kekuatan moral dan sosial untuk membangun masyarakat Bangka Belitung yang lebih berdaya, mandiri, dan bermartabat.

Sebab kemajuan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh seberapa baik ilmu, kepedulian, dan kekuatan sosial tersebut dikelola untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.