Calling dalam Pekerjaan dan Kepuasan Kerja
Pekerjaan tidak selalu dimaknai dengan
cara yang sama oleh setiap orang. Bagi sebagian orang, pekerjaan terutama
menjadi sumber penghasilan. Bagi yang lain, pekerjaan juga merupakan kesempatan
mengembangkan karier, menggunakan kemampuan, dan memberi manfaat bagi orang
lain. Perbedaan cara memaknai pekerjaan ini dapat memengaruhi pengalaman
seseorang dalam menjalani tugas sehari-hari, termasuk kepuasan yang
dirasakannya. Pemaknaan pekerjaan sebagai sesuatu yang memiliki tujuan dan arti
dikenal dengan istilah calling atau
panggilan dalam pekerjaan. Konsep ini tidak terbatas pada profesi tertentu.
Karyawan di sektor jasa, pendidikan, kesehatan, pemerintahan, maupun sektor
lainnya dapat merasakan bahwa pekerjaannya bernilai karena membantu orang lain
atau memberi kontribusi bagi masyarakat. Di sektor jasa, makna pekerjaan sering
tampak melalui interaksi dengan pelanggan atau pengguna layanan. Petugas
layanan yang membantu menyelesaikan masalah, staf hotel yang menciptakan
kenyamanan bagi tamu, atau karyawan restoran yang memberikan pengalaman
menyenangkan dapat menemukan kepuasan bukan hanya dari hasil pekerjaan, tetapi
juga dari manfaat yang dirasakan orang lain. Namun, calling bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi kepuasan kerja.
Kondisi kerja, imbalan, hubungan dengan pimpinan, beban kerja, dan kesempatan
berkembang tetap penting.
Calling
menggambarkan cara seseorang memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang bermakna,
memiliki tujuan, dan dapat memberi manfaat bagi orang lain. Dengan perspektif
ini, seseorang tidak hanya berfokus pada upah atau status, tetapi juga pada
nilai yang dirasakan dari pekerjaan yang dijalani. Calling berkaitan dengan pemaknaan pribadi; karena itu, dua orang
yang melakukan pekerjaan serupa dapat memiliki pengalaman yang berbeda. Sebagai
contoh, seorang petugas layanan pelanggan dapat memandang pekerjaannya bukan
sekadar menjawab pertanyaan, melainkan membantu orang menemukan solusi. Seorang
tenaga kesehatan dapat merasakan makna ketika mampu mendukung pemulihan pasien,
sedangkan pegawai administrasi dapat merasa pekerjaannya penting karena
membantu proses layanan berjalan lancar. Contoh-contoh tersebut menunjukkan
bahwa calling tidak ditentukan
semata-mata oleh nama profesi, melainkan juga oleh cara seseorang memahami
kontribusi pekerjaannya.
Work
as Calling Theory menurut Ryan D. Duffy
dan Bryan J. Dik (2018), menyoroti bagaimana panggilan kerja berkaitan dengan
pencarian makna dan tujuan. Ketika seseorang dapat mengekspresikan nilai dan
tujuan tersebut dalam pekerjaan nyata, pekerjaannya berpotensi menjadi sumber
makna dan kepuasan. Namun, memiliki calling tidak otomatis menjamin kepuasan,
pengalaman kerja juga dipengaruhi oleh apakah lingkungan organisasi
memungkinkan seseorang menjalankan pekerjaannya secara wajar. Self-Determination Theory yang
dikembangkan Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (1985) menjelaskan pentingnya
tiga kebutuhan psikologis dasar otonomi (autonomy),
kompetensi (Competence), dan
keterhubungan social (Relatedness).
Otonomi berkaitan dengan kesempatan mengambil keputusan sesuai tanggung jawab.
Kompetensi merujuk pada perasaan mampu menjalankan tugas dengan baik, sedangkan
keterhubungan sosial berhubungan dengan relasi positif dan rasa menjadi bagian
dari lingkungan kerja. Ketiga kebutuhan ini dapat mendukung pengalaman kerja
yang bermakna. Karyawan yang diberi ruang mengambil keputusan, memperoleh
pelatihan memadai, serta memiliki hubungan saling menghormati dengan rekan dan
pimpinan cenderung memiliki kondisi yang lebih mendukung motivasi. Dalam sektor
jasa, petugas yang diberi kewenangan menyelesaikan keluhan tertentu, memiliki
keterampilan yang diperlukan, dan mendapat dukungan tim dapat lebih mudah
menerjemahkan niat membantu pelanggan menjadi tindakan nyata.
Calling
dapat memperkuat motivasi ketika seseorang melihat pekerjaannya selaras dengan
nilai dan tujuan pribadi. Namun, organisasi tidak seharusnya menganggap bahwa
karyawan yang merasa pekerjaannya bermakna akan selalu termotivasi tanpa
dukungan. Otonomi yang terlalu terbatas, kurangnya pelatihan, hubungan kerja
yang buruk, atau tuntutan yang tidak realistis dapat menghambat kemampuan
karyawan mewujudkan makna pekerjaannya.
Teori Dua Faktor Frederick Herzberg (1959)
membedakan faktor motivator dan faktor higiene. Faktor motivator meliputi
pencapaian, pengakuan, tanggung jawab, peluang berkembang, dan karakter
pekerjaan itu sendiri. Faktor higiene mencakup kondisi kerja, kebijakan
organisasi, hubungan dengan atasan dan rekan, keamanan kerja, serta kompensasi.
Dalam kerangka ini, pekerjaan yang terasa bermakna dan memberi kesempatan
berkontribusi dapat berkaitan dengan faktor motivator. Misalnya, karyawan
mungkin merasa puas ketika berhasil membantu pelanggan menyelesaikan masalah
yang rumit atau menyelesaikan tugas yang memberi manfaat bagi masyarakat. Rasa
berhasil dan pengakuan atas kontribusi dapat memperkuat pengalaman positif
tersebut. Akan tetapi, makna pekerjaan tidak dapat menggantikan faktor higiene.
Karyawan tetap membutuhkan upah layak, lingkungan kerja aman, perlakuan adil,
hubungan kerja sehat, dan beban kerja yang masuk akal. Jika kondisi dasar
tersebut buruk, calling bahkan dapat menjadi sumber tekanan. Karyawan yang
merasa harus selalu berkorban demi pelanggan atau organisasi mungkin kesulitan
menetapkan batas kerja, mengalami kelelahan, atau merasa bersalah ketika tidak
dapat memenuhi semua permintaan. Karena itu, organisasi perlu menghargai makna
dan dedikasi karyawan tanpa menggunakannya sebagai alasan untuk menuntut
pengabdian tanpa batas.
Organisasi memiliki peran penting dalam
membantu karyawan menemukan dan menjalankan makna pekerjaannya. Pertama,
berikan kesempatan belajar dan mengembangkan keterampilan agar karyawan mampu
melaksanakan tugas dengan percaya diri. Kedua, akui kontribusi karyawan secara
wajar, termasuk keberhasilan menyelesaikan masalah, membantu tim, dan
memberikan layanan yang baik. Pengakuan tidak selalu harus berupa imbalan
finansial, tetapi perlu diberikan secara tulus dan adil. Ketiga, bangun
hubungan kerja yang sehat melalui komunikasi terbuka, dukungan pimpinan, dan
kolaborasi antarrekan. Keempat, berikan otonomi yang sesuai dengan kompetensi
dan tanggung jawab, sehingga karyawan dapat menggunakan pertimbangan
profesional tanpa harus menunggu persetujuan untuk setiap keputusan kecil.
Kelima, pastikan beban kerja, kompensasi, dan kondisi kerja tetap layak.
Dukungan tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik organisasi dan
pekerjaan. Organisasi juga perlu menghindari anggapan bahwa semua karyawan
harus memandang pekerjaan sebagai panggilan. Bagi sebagian orang, pekerjaan
mungkin terutama merupakan sumber penghasilan atau sarana membangun karier, dan
hal itu tidak berarti mereka kurang bertanggung jawab. Tujuan organisasi bukan
memaksakan satu cara memaknai pekerjaan, melainkan menciptakan lingkungan yang
memungkinkan karyawan bekerja dengan baik, menemukan nilai dalam kontribusinya,
dan menjaga kesejahteraan.
Calling
membantu menjelaskan mengapa seseorang dapat menemukan makna dan tujuan dalam
pekerjaan, termasuk ketika tugas yang dijalankan serupa dengan tugas orang
lain. Makna tersebut berpotensi mendukung motivasi dan kepuasan kerja, terutama
ketika karyawan merasakan bahwa pekerjaannya memberi manfaat bagi orang lain
dan selaras dengan nilai pribadi. Namun, calling
bukan satu-satunya penentu kepuasan kerja dan tidak dapat menggantikan kondisi
kerja yang layak. Self-Determination
Theory menekankan pentingnya otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial,
sementara Teori Dua Faktor Herzberg mengingatkan bahwa pekerjaan bermakna perlu
didukung oleh kondisi kerja dan kompensasi yang memadai. Pada akhirnya,
kepuasan kerja tumbuh dari hubungan antara pemaknaan individu dan dukungan
organisasi. Ketika karyawan memiliki kesempatan berkembang, memperoleh
pengakuan yang adil, menjalin hubungan kerja sehat, dan bekerja dengan beban
yang wajar, makna pekerjaan dapat menjadi sumber energi positif bagi individu
sekaligus mendukung kualitas layanan dan pencapaian tujuan organisasi.
PERTIBAHome
Kirim Tulisan